"Program ini bertujuan mengurangi pemborosan pangan dan membentuk kesadaran konsumsi yang bijak di kalangan masyarakat,"
Jakarta (BRAGANews) - Guna mengurangi Food Loss dan Food Waste (FLW) di Indonesia, pemerintah mengajak masyarakat melakukan tiga upaya menghindari pemborosan makanan, salah satunya melalui donor bahan pangan.
“Program ini bertujuan mengurangi pemborosan pangan dan membentuk kesadaran konsumsi yang bijak di kalangan masyarakat,” kata Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi saat dihubungi di Jakarta, Jumat.
Program donor melibatkan perusahaan dan penjual ritel besar seperti supermarket, usaha ritel, dan sejumlah gerai di mal, yang memiliki barang atau bahan pangan yang dapat didonasikan.
Dia melanjutkan, program kedua yakni penghubung atau Hub dengan Food Bank of Indonesia (FOI), yang memainkan peran penting sebagai penghubung antara para donor dan penerima manfaat.
Untuk program ketiga yakni kebermanfaatan atau beneficiary. Adapun Bapanas bekerja sama dengan berbagai perusahaan dan organisasi nonpemerintah untuk menyediakan akses yang lebih baik bagi para penerima, terutama panti asuhan dan warga masyarakat yang membutuhkan bantuan pangan.
Terdapat pula tiga kampanye yang mendukung program, yaitu "Stop Boros Pangan", "Habiskan", dan “Belanja bijak” untuk mengurangi pemborosan pangan di Indonesia yang mencapai Rp260 triliun hingga Rp551 triliun per tahun.
Arief berharap program yang telah berlangsung selama hampir dua tahun itu dapat memberi jalan yang positif untuk mengubah pola konsumsi masyarakat Indonesia menjadi lebih berkesadaran dan bijak dalam mengelola pangan.
"Masalah pemborosan pangan telah menjadi perhatian serius bagi kami, dan melalui program ini, kami berharap dapat mencapai keberlanjutan pangan dan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat Indonesia," ujarnya.
Dihubungi dalam kesempatan terpisah, Ahli Lingkungan Hidup Suprihatin mengatakan dampak FLW bagi lingkungan hidup berupa dampak lokal, yaitu pencemaran lingkungan dengan menimbulkan bau yang tidak sedap atau bau busuk. Sedangkan terdapat pula dampak global, yakni timbulnya gas metana atau gas rumah kaca yang sangat berbahaya.
“Masyarakat harus dapat memisahkan antara sampah makanan dengan sampah-sampah yang lain atau pisahkan sampah organik dan non organik," ucap Suprihatin.
Bagi pemerintah, ia menyarankan agar dapat membangun TPS (Tempat Pembuangan Sampah) dan dan TPS3R (Reduce, Reuse, Recycle) yang terintegrasi.
Pemerintah, menurut Suprihatin, juga dapat mengedukasi masyarakat agar tak terlalu lama menyimpan makanan, yang pada akhirnya akan menjadi busuk atau banyak terkena kotoran.
Pewarta: Alex A. Wauran
Editor: Agatha Olivia Victoria

Comments
Post a Comment