Redaktur Redaksi Foto Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA Saptono Soemardjo menghadiri sharing session dengan peserta Kursus Dasar Pewarta (SUSDAPE) LKBN ANTARA di Jakarta, Jumat (18/8/2023). BRAGANews/Uyu Septiyati Liman
"Makanya, pokoknya berdoa (agar diberi keselamatan oleh Yang Maha Kuasa),"
Jakarta (BRAGANews) - Berdasarkan pengalamannya, Redaktur Redaksi Foto Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA Saptono Soemardjo mengatakan bahwa seorang jurnalis harus bisa menjaga diri agar tidak dimanfaatkan saat meliput suatu konflik.
"Wartawan adalah pihak yang mudah diprovokasi," ujarnya pada sharing session Kursus Dasar Pewarta (SUSDAPE) XX Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA di Jakarta, Jumat.
Ia menyatakan bahwa jika ada jurnalis yang terluka, tertawan, maupun terbunuh akibat meliput suatu konflik, maka peristiwa tersebut akan menjadi sorotan masyarakat internasional.
"Makanya, pokoknya berdoa (agar diberi keselamatan oleh Yang Maha Kuasa)," kata Saptono.
Selain itu, ia juga mengatakan bahwa seorang pewarta sebaiknya selalu bepergian dalam kelompok berjumlah minimal tiga orang dan mengabarkan para koleganya tentang posisi terkini jurnalis tersebut.
Wartawan juga sebaiknya tidak membawa orang lain selain sesama pewarta dalam rombongannya, ujar Saptono.
Dari dua macam konflik yang biasa terjadi di Indonesia, Saptono menyatakan bahwa konflik horizontal merupakan jenis konflik yang paling berbahaya.
"Karena konflik horizontal adalah konflik antarkelompok masyarakat yang dipicu oleh isu SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan)," ucapnya.
Menurutnya, masyarakat yang terlibat dalam konflik horizontal, misalnya konflik Sampit dan Ambon, tidak lagi patuh pada hukum formal.
"Oleh karena itu, mereka tidak segan lagi untuk saling membunuh," kata Saptono.
Selain konflik horizontal, ia mengatakan bahwa konflik vertikal atau konflik antara kelompok masyarakat dan pemerintah pernah beberapa kali terjadi di Indonesia.
Salah satu konflik vertikal yang ia pernah liput adalah konflik Aceh antara kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan pemerintah.
Ia menyatakan bahwa dalam meliput konflik semacam itu, seorang wartawan harus tetap dapat memberitakan peristiwa dengan seimbang menurut para narasumber dari kedua pihak.
"Maka, penting untuk menjaga hubungan baik dan kepercayaan dengan narasumber," ujar Saptono.
Pewarta: Uyu Septiyati Liman
Editor: Agatha Olivia Victoria

Comments
Post a Comment