
Seorang pria berjalan di depan ruang jenazah RSUD Cengkareng, Jakarta Barat, Senin (07/08/2023). (BRAGANews/Nadia Putri Rahmani)
“Namanya juga kerja di pelayanan. Walaupun orang marah mau gimanapun kita harus tetap senyum,”
Jakarta (BRAGANews) - Perjalanan dari Cikini menuju Cengkareng, Jakarta Barat, tidaklah mudah. Ojek daring yang ditumpangi dari Stasiun Rawa Buaya harus saling beradu dengan mobil-mobil dan truk besar di tengah macetnya Ibu Kota.
Butuh waktu 30 menit untuk bisa tiba di Rumah Sehat Jakarta Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cengkareng. Pada depan rumah sakit berjejer penjual aneka macam makanan. Rasanya bukan seperti ada di daerah rumah sakit, tapi di pasar malam.
Memasuki pagar rumah sakit yang terhalangi proses pembangunan, suasana mulai berubah. Pada pukul 19.30 WIB, rumah sakit itu sepi. Hanya ada beberapa keluarga pasien rawat inap yang duduk di depan gedung untuk sekadar merokok atau mengobrol.
Lorong menuju ruang jenazah juga tak dipenuhi banyak orang. Hanya ada beberapa petugas kebersihan yang mondar-mandir membawa sekantong besar pakaian kotor.
Papan bertuliskan “Ruang Memandikan Jenazah” terpampang di balik pintu utama ruang jenazah. Pada sebelahnya, ada ruangan “Ruang Tunggu Keluarga”.
Tidak ada suasana mencekam yang lekat dengan gambaran ruang mayat di pikiran kita walaupun hawanya cukup dingin. Tidak ada pula pengunjung ataupun keluarga yang berduka meraung-raung menangisi anggota keluarga mereka yang meninggal. Suasana ruang jenazah benar-benar hening.
Salah seorang petugas, tampak tertidur di ruang administrasi. Ia terbangun karena suara derap langkah orang. Namanya Agus, seorang petugas pemulasaran jenazah. Ia memakai baju scrub berwarna biru tua.
Ia menyambut dengan senang untuk berbicara. Agus bercerita ia telah bekerja di ruang jenazah sebagai petugas pemulasaraan jenazah sejak tahun 2009.
Begitu pula saat di masa-masa pandemi COVID-19. Ia bercerita sempat takut tertular penyakit tersebut ketika memandikan jenazah.
“Saya pernah sampai nggak pulang ke rumah selama enam bulan karena nggak mau anak-istri tertular,” katanya sambil memainkan ponsel.
Pada saat itu Agus mengaku pulang dua minggu sekali ke rumah demi melindungi keluarganya dari risiko yang mungkin didapat dari pekerjaannya.
Jumlah jenazah yang harus dia mandikan juga meningkat pada puncak pandemi di Indonesia yang terjadi pada tahun 2021.
Agar tidak tertular, ia menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP), di antaranya memakai Alat Pelindung Diri (APD) dan melakukan tes COVID-19 berkala.
Saat sedang berbicara dengan Agus, dari arah belakang datang seorang kakek tua dengan baju koko berwarna baju krem dan peci berwarna merah marun.
Penampilannya jauh berbeda dari Agus yang memakai pakaian khas rumah sakit. Kakek itu lebih seperti orang yang baru pulang dari masjid sehingga bisa saja dikira sebagai salah satu anggota keluarga yang berduka.
Petugas pemulasaraan jenazah Engkus Rahman Hari di depan ruang jenazah di RSUD Cengkareng, Senin (07/08/2023). (BRAGANews/Nadia Putri Rahmani)
Namanya Engkus Rahman Hari. Usianya 64 tahun. Sehari-hari ia dipanggil Babeh Engkus. Jabatannya di ruang jenazah adalah sebagai petugas pemulasaraan jenazah.
Babeh Engkus bekerja di RSUD Cengkareng sejak tahun 2009, sama seperti Agus. Sudah 14 tahun dia bertugas memandikan, mendoakan, serta mengkafani jenazah.
Babeh Engkus menimpali pernyataan Agus soal melindungi diri dari COVID-19. “Kesehatan kita lindungi dulu lah, Bang. Alhamdulillah kita di sini walaupun ngadepin jenazah COVID, semua yang nanganin nggak kena COVID,” kata Babeh.
Babeh memilih duduk di atas meja di samping loker ruang administrasi untuk berbagi suka dan duka selama bekerja 14 tahun. Sambil tersenyum ia bercerita tentang pengalaman menghadapi keluarga jenazah.
Ia mengaku pernah diperlakukan dengan tidak baik oleh keluarga jenazah padahal dirinya merasa sudah melakukan yang terbaik.
“Namanya juga kerja di pelayanan. Walaupun orang marah mau gimanapun kita harus tetap senyum,” kata Babeh sambil tersenyum getir.
Ia juga bercerita ada juga anggota keluarga yang bingung dan melamun karena terpukul sehingga jenazah terabaikan. Babeh pun inisiatif turun tangan dengan memandikan dan menshalatkan jenazah.
Babeh memaklumi semua keluhan yang disampaikan kepadanya ataupun perlakuan tidak mengenakkan yang ia terima.
“Jadi kalo ngomong sama keluarga yang kedukaan itu jangan sampai asal. Mengaku salah aja udah,” kata Babeh.
Lagi-lagi satu nilai dalam bekerja yang tetap diingat dan diterapkan oleh Babeh, yaitu pelayanan. Melayani pasien sama saja dengan memberikan mereka kepuasan. Itulah yang menjadi pegangan Babeh.
Dengan mata berkaca-kaca, Babeh juga menceritakan motivasinya bekerja dengan tulus, yaitu ia tak pernah merawat jenazah ayahnya. Ia mengurus setiap jenazah dengan hati karena menganggap seperti mengurusi jenazah ayahnya sendiri.
“Saya nggak pernah urusin pemakaman bapak saya, jadi siapa pun, kulit apa pun, agama apa pun, saya mengurusi jenazah mereka seperti ayah saya,” kata Babeh.
Selama bekerja di ruang jenazah, pelajaran hidup yang ia ambil adalah memahami makna kematian. Menurutnya, orang mati tidak membawa apa pun ke liang lahat. Pelajaran tersebut menjadi pengingat bagi dirinya sendiri yang sudah memasuki usia senja.
Meski usianya sudah masuk kepala enam dan giginya mulai ompong, ia masih lincah. Katanya, daripada di rumah saja, ia lebih baik bekerja. Seharusnya dia akan pensiun pada tahun ini, tapi dirinya mengaku masih bingung.
Obrolan berakhir dengan Babeh mengajak berkeliling untuk menunjukkan ruang jenazah tempat ia bekerja. Saat masuk ke dalam ruangan memandikan jenazah, hawa berubah drastis menjadi semakin dingin dan bau alkohol juga menyengat di hidung.
“Biasanya saya mandiin di sini, tapi sekarang masih belum dibersihin,” ujar Babeh sambil menunjuk bagian bawah keranda tanpa ragu.
Meski ruang jenazah di RSUD Cengkareng terkesan dingin dan seolah menyimpan banyak rahasia, namun kisah tekad kerja Agus dan kisah kehidupan Babeh menghangatkan ruangan tersebut.
Pulang dari Cengkareng, Jakarta Barat, untuk kembali ke Cikini, Jakarta Pusat, langkah kaki semakin ringan karena membawa kisah inspiratif dan pemecut untuk lebih semangat menjalani pekerjaan.
Pewarta: Nadia Putri Rahmani
Editor: Agatha Olivia Victoria
Comments
Post a Comment