Skip to main content

Petambak udang tradisional butuh bimbingan untuk tingkatkan produksi

 

Petambak udang tradisional menunjukkan udang hasil budi daya dengan sistem tradisional di Jakarta, Kamis (10/8/2023). (BRAGANews/Khaerul Izan)


"Kalau di sini (Jakarta) bisa sukses, maka dapat dipastikan daerah lain pun bisa lebih sukses,"


Jakarta (BRAGANews) - "Kami butuh bimbingan," kata Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Marunda Mina Jaya Madarip saat berbincang di areal tambak udang tradisional yang terletak di Kelurahan Marunda, Jakarta Utara, Kamis. 


Cuaca terik khas wilayah pesisir pantai sangat terasa, meskipun saat itu jam baru menunjukkan sekitar pukul 09.15 WIB. 


Madarip mengajak berkeliling ke beberapa tambak udang tradisional yang ada di sekitar lokasi, memang tidak terlalu luas, bahkan rerata merupakan tanah sewa yang dimiliki oleh TNI, maupun perusahaan swasta. 


Para petambak tidak menggunakan alat maupun teknologi untuk membudidayakan udang vaname yang kini sedang menjadi idola, karena harga cukup tinggi dan lebih tahan terhadap penyakit. 


Sistem yang digunakan oleh para petambak masih sangat tradisional, di mana mereka hanya menunggu air laut pasang, kemudian di masukkan ke dalam tambak yang sudah dikeringkan terlebih dahulu, baru ditebar benih udang. Setelah 2-3 bulan, benih udang yang ditebar kemudian baru bisa di panen. 


Tidak terapkannya teknologi terkini, karena mereka terhambat modal, di mana setiap hektare ketika menggunakan sistem insentif, petambak harus mengeluarkan sekitar Rp30 juta lebih. 


Modal tersebut digunakan untuk membeli benih udang, kincir air, biaya pakan, biaya listrik, dan perawatan selama 2-3 bulan pemeliharaan sebelum dipanen. 


Sementara biaya yang dikeluarkan untuk budi daya udang tradisional per hektare hanya membutuhkan Rp5 juta per hektare dalam sekali menebar benih.


Dalam setahun para petambak dapat melakukan 3-4 kali menabur benih udang, dengan rerata produksi per hektare 2-3 kuintal atau 1,2 ton per tahun. Dan bahkan tidak ada biaya untuk pakan. 


Butuh bimbingan

Petambak udang yang berada di Jakarta Utara itu mengaku sangat membutuhkan bimbingan dan percontohan untuk meningkatkan hasil produksinya. 


Karena selama ini, ketika ada yang mencoba menggunakan sistem intensif selalu gagal, dan itu memang karena hanya melihat contoh dari Youtube.


Untuk itu, para petambak udang tradisional menginginkan agar ada percontohan yang baik di sekitar wilayahnya, agar mereka bisa meniru dan menerapkan sistem yang baik, agar produksinya bisa terus ditingkatkan lagi. 


Petambak udang saat menjaring di tambak tradisional yang berada di Jakarta, Kamis (10/8/2023). (BRAGANews/Khaerul Izan) 

Percontohan dan bimbingan sangat dibutuhkan, mengingat kondisi air di wilayah Jakarta Utara juga sudah banyak tercampur dengan limbah industri, sehingga menyulitkan para petambak udang tradisional. 


"Kami butuh bimbingan dan percontohan. Kalau di sini (Jakarta) bisa sukses, maka dapat dipastikan daerah lain pun bisa lebih sukses," harap Madarip. 


Kepala Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Jakarta Utara Unang Rustanto mengatakan bahwa total areal tambak udang di daerah itu mencapai 40 hektare dan semua menggunakan sistem budi daya tradisional.


Sehingga produksi udang di daerah itu per tahun hanya berkisar 120 ton. Minimnya produksi udang di daerah itu tidak terlepas dari masih menggunakan sistem konvensional serta tergantung pada kondisi alam. 


Bahkan adanya limbah pabrik yang mencemari menyebabkan gagal panen dan adanya serangan penyakit pada udang. 


Revitalisasi tambak tradisional

Tingkat produksi tambak udang tradisional di Indonesia rerata hanya mencapai 0,6 ton per hektare per tahun, kondisi itu tentu tidak ideal untuk dijadikan usaha utama. 


Revitalisasi tambak udang tradisional diharapkan dapat meningkatkan produksi 2-15 ton per hektare per tahun atau empat kali lipat dari sebelumnya 0,6 hektare per tahun, kata Direktur Kawasan dan Kesehatan Ikan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Tinggal Hermawan. 


Luasan tambak udang di Indonesia dari data KKP mencapai 562.000 hektare, dari jumlah tersebut, 93 persen di antaranya merupakan tambak udang tradisional dengan luasan 522.600 hektare dan 7 persen sisanya adalah tambak semi-intensif dan intensif seluas 52.698 hektare. 


Kemudian dari luasan tambak tradisional yang ada, menunjukkan 56 persen merupakan tambak idle atau sudah berubah fungsi, sehingga total tambak tradisional yang masih aktif hanya tinggal 247.803 hektare dengan produktivitas 0,6 ton per hektare per tahun. 


Angka tersebut jauh di bawah hasil panen tambak semi intensif atau intensif yang diperkirakan bisa mencapai 10-30 ton per hektare per tahun.


Kondisi itu membuat KKP mencoba melakukan revitalisasi tambak udang tradisional yang dilakukan, dengan menyiapkan percontohan pembuatan klaster tambak udang semi intensif, agar bisa ditiru oleh para petambak tradisional.


Selain itu diberikan bantuan rehabilitasi saluran tambak masyarakat, serta bantuan alat berat untuk memperbaiki saluran tambak, bantuan kincir dan lain sebagainya, sehingga diharapkan dapat meningkatkan produksi.


Edukasi dan percontohan sangat diperlukan, karena ketika petambak sudah menerapkan pengetahuan serta meniru yang dijadikan percontohan, diharapkan produksi bisa meningkat. 


Peningkatan produksi udang bukan hanya revitalisasi tambak udang tradisional, KKP sedang menjalankan percontohan tambak udang berbasis kawasan di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. 


Kawasan tersebut menjadikan tambak udang yang ramah lingkungan, sesuai dengan program pemerintah terkait ekonomi biru, di mana salah satunya yaitu dengan perbaikan budi daya laut berkelanjutan. 


Tambak udang berbasis kawasan itu, dapat meningkatkan produksi hingga mencapai 40-80 ton per hektare per tahun, dan diharapkan bisa ditiru oleh para pengusaha, karena nilai ekonominya sangat besar. 


Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan pada tahun 2024 produksi udang mencapai 2 juta ton, sehingga dilakukan revitalisasi tambak udang tradisional, dan membuat percontohan tambak udang berbasis kawasan. 


Produksi udang pada tahun 2022 tercatat 1,09 juta ton, data itu mengalami peningkatan 15 persen dibandingkan produksi tahun 2021 yang berada di angka 953 ton.


Pewarta: Khaerul Izan

Editor: Agatha Olivia Victoria


Situs ini dikelola oleh anggota Kelompok 8 peserta Kursus Dasar Pewarta (SUSDAPE) XX Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA dengan tujuan untuk mengasah kemampuan jurnalistik peserta.

Comments