Skip to main content

Pamer produk lokal dan UMKM lewat media sosial

 Seorang wanita melihat akun Instagram milik seorang pemengaruh di Jakarta, Jumat (11/08/2023). (BRAGANews/Nadia Putri Rahmani)


"Subsektor fesyen menyumbang kontribusi terbesar kedua setelah kuliner,"


Jakarta (BRAGANews) – Mengunjungi restoran yang menjual makanan lezat, memamerkan baju nyaman yang baru saja dibeli ataupun menunjukkan tempat wisata kekinian, mungkin jadi bagian sehari-hari bagi influencer media sosial atau yang dalam bahasa Indonesia disebut sebagai pemengaruh.


Sejumlah media sosial menjadi jembatan oleh para pemengaruh untuk merekomendasikan hal-hal yang menurut mereka menarik, salah satunya di bidang fesyen. 


Media sosial berbagi foto, yaitu Instagram, menjadi salah satu pilihan bagi pemengaruh untuk memberikan rekomendasi fesyen terkini kepada para pengikutnya. Perkembangan bidang fesyen di Indonesia juga cukup besar, khususnya industri fesyen Muslim.


Menurut data Direktorat Pengembangan Pasar dan Informasi Ekspor (Dit. P2IE) Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (DJPEN) Kementerian Perdagangan, subsektor fesyen menyumbang kontribusi terbesar kedua setelah kuliner, berkontribusi sebesar 6,78 persen dari PDB industri pengolahan non-migas di tahun 2020. 


Bank Indonesia juga memperkirakan sektor prioritas Halal Value Chain (HVC) di dalam negeri, yaitu pertanian, makanan dan minuman halal, fesyen Muslim dan pariwisata ramah Muslim akan tumbuh sebesar 4,5-5,3 persen pada tahun 2023, yang diproyeksikan mampu menopang lebih dari 25 persen ekonomi nasional.


Seiring dengan besarnya industri fesyen Muslim di Indonesia, tumbuhlah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memproduksi pakaian Muslik dan menjualnya lewat toko daring maupun laman resmi mereka. 


Kehadiran pemengaruh pun dimanfaatkan oleh UMKM. Mau tak mau, media sosial menjadi “jembatan” bagi masyarakat untuk bisa mengetahui produk UMKM apa yang bagus dan kekinian sebelum nantinya membelinya secara langsung melalui toko daring atau laman resmi merek UMKM yang dipilih.


Peran pemengaruh pun menjadi krusial agar bisa mengiklankan produk secara menarik untuk pelanggan dan memberikan timbal balik kepada pihak UMKM berupa peningkatan penjualan produk.


Selebgram dan pengikutnya

Seorang wanita cantik berkulit putih dan berhijab menyapa dengan logat Surabaya yang kental. Siapa mengira bahwa ia adalah seorang ibu dengan dua anak. Wanita tersebut bernama Sonia Feby Savitri. Ia memiliki akun media sosial Instagram dengan lebih dari 10 ribu pengikut. 


Melalui akunnya, ia berfokus menjadi pemengaruh dengan sebutan selebgram atau selebritas Instagram di bidang fesyen. Dalam beberapa foto yang ia kirim di linimasa akunnya, ia menandai merek pakaian yang ia kenakan di foto tersebut. Beberapa pakaian tersebut berasal dari produk lokal dan UMKM Indonesia. 


Unggahan yang ia kirimkan berbuah manis. Sonia mengaku bahwa beberapa pengikutnya menanyakan dari mana ia membeli baju yang ia posting. Unggahannya tersebut berimbas pada menyebarnya informasi mengenai merek baju yang ia kenakan.


Menjadi pemengaruh fesyen, ia juga menerima permintaan dari beberapa merek pakaian untuk bekerja sama dengannya. Nama dari proses itu dikenal sebagai endorse atau yang secara makna adalah cara promosi.


Ia menuturkan bahwa dirinya telah menerima tawaran dari beberapa merek UMKM di bidang fesyen, salah satunya merek kerudung instan, untuk mempromosikan produk mereka di akun Instagram-nya. 


Pihak merek kerudung tersebut mengirimkan pesan langsung kepada Sonia dan menawarkan kerja sama lewat mengirimkan barang kepadanya. Nantinya, Sonia akan memberikan ulasan mengenai pengalamannya saat memakai produk tersebut lewat suatu unggahan foto. 


Alasannya menerima endorse dari UMKM kerudung instan karena bahan yang digunakan merek kerudung tersebut berkualitas.  Selain itu, ia sudah memiliki beberapa produknya dan memang kerudung yang ia beli terasa nyaman. Baginya, pengalamannya lebih penting agar pengikutnya juga merasa puas saat menggunakan produk yang ia rekomendasikan.


“Aku ingin barang yang bangga-banggakan di media sosial sesuai dengan yang aku suka dan sesuai dengan ekspektasi pengikutku. Selain itu, aku juga akan mendukung UMKM,” ungkap Sonia.


Mengenai pilihan produk yang akan ia terima untuk endorse, Sonia tak mempermasalahkan berapa harganya dan apa mereknya. Baginya, selama produk itu nyaman, ia akan menerimanya, dan jika menurutnya produk itu bagus, ia akan menyiarkannya kepada para pengikutnya.


Reaksi yang diterima dari pemilik UMKM kerudung setelah dipromosikan oleh Sonia adalah positif. Ia menyebut bahwa sang pemilik UMKM merasa senang karena beberapa pengikutnya memesan produk mereka lewat pengaruh kiriman fotonya. 


Meski begitu, ada pengikut yang juga tak sembarangan memilih pemengaruh dalam pertimbangan membeli suatu produk. Tasa, seorang wanita berusia 26 tahun, juga mempertimbangkan siapa pemengaruh yang ia ikuti dalam membeli suatu produk fesyen. 


Mulai dari kerudung, pakaian, alas kaki, hingga tas yang ia beli merupakan produk lokal dan beberapa di antaranya berasal dari UMKM. Kebanyakan informasi mengenai merek produk yang ia beli berasal dari pemengaruh yang ia ikuti di media sosial. 


“Ketika aku lihat pakaiannya (pemengaruh), wah ternyata bagus dan rapi. Jadi, aku tertarik untuk nyobain,” kata Tasa sambil menunjukkan akun media sosial pemengaruh yang ia ikuti. 


Tasa bercerita, sebelumnya ia penasaran dengan suatu merek kerudung milik UMKM. Ternyata pemengaruh yang sudah lama ia kagumi, menerima endorse dari merek tersebut. Setelah mengetahui ulasannya, ia pun memutuskan untuk membelinya. Bahkan, kini ia menjadi pelanggan yang terus mengikuti rilisan produk baru merek tersebut.


Alasannya memakai produk lokal dan UMKM adalah karena menurutnya sebagai warga Indonesia, masyarakat harus bangga dengan buatan lokal. Kualitas pakaian yang ia kenakan juga tak kalah bersaing dengan merek luar negeri. 


Selain itu, model dan desain pakaian menjadi pertimbangan lain baginya dalam memilih membeli produk lokal.  


Menurutnya, pakaian dari merek luar negeri yang kebanyakan merupakan produk fast fashion atau baju dengan model yang cepat berganti, lebih simpel dan polos. Sementara itu, produk lokal lebih bermain pada motif sehingga pakaian bisa digunakan secara kasual maupun untuk acara formal.


Tasa yang saat ini memiliki pengikut di media sosial sebanyak lebih dari seribu, mengungkapkan bahwa unggahan foto dirinya bergaya dengan gaya baju tertentu, juga mendapatkan respon dari pengikutnya.


Sama seperti Sonia, beberapa pengikut Tasa juga menanyakan di mana ia membeli baju yang ia pakai. Namun, bedanya, ia tak menerima endorse. Ia hanya memberikan tautan afiliasi toko daring melalui pesan langsung ataupun unggahan di fitur story di media sosial. 


Influencer dan pemerintah 

Kisah Sonia dan Tasa menunjukkan bahwa media sosial bisa menjadi media yang sangat kuat untuk memasarkan produk-produk UMKM secara lebih luas dan nasional. Kemudahan berbelanja melalui toko daring juga membantu para pembeli dari wilayah berbeda untuk menjangkaunya. 


Smesco Indonesia, lembaga resmi di bawah Kemenkop UKM yang bertugas untuk membantu akses pemasaran bagi usaha kecil dan menengah, turut ikut andil dalam membantu meluaskan pemasaran UMKM lewat tren media sosial lewat pelatihan maupun kampanye.


Direktur Bisnis dan Pemasaran Smesco Indonesia Wientor Rah Mada mengungkapkan bahwa tren penjualan saat ini mulai bergeser ke livestreaming atau siaran langsung di platform media sosial yang menawarkan layanan jual-beli.


Menurutnya, itulah salah satu fenomena baru yang mana UMKM di Indonesia harus segera beradaptasi dan mempelajari cara siaran langsung yang baik dan benar sehingga bisa meningkatkan penjualan.


Adanya perubahan gaya masyarakat dalam melakukan jual-beli secara daring pun harus terus diantisipasi agar tidak ketinggalan dengan kompetitor lainnya. 


Melalui berbagai pelatihan, di antaranya cara mudah bikin toko daring dan tips anti “boncos” beriklan di media sosial, Smesco aktif mengajak UMKM untuk menggali lebih dalam teknik-teknik di media sosial agar bisa menggaet lebih banyak pelanggan.


Wientor Rah Mada mengatakan bahwa pihak Kemenkop UKM juga telah bekerja sama dengan selebgram dan influencer pada beberapa program untuk mempromosikan produk-produk UMKM.  


Salah satu program yang saat ini sedang digaungkan di Instagram adalah tagar #FlexingLokal dalam rangka Hari UMKM Nasional 2023 yang peringatannya akan diselenggarakan di Solo, Jawa Tengah pada 10-13 Agustus 2023. 


Kemenkop UKM bekerja sama dengan dua perusahaan besar mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam kompetisi video dengan tagar #FlexingLokal untuk memamerkan produk UMKM dalam negeri favorit peserta. 


Melalui gerakan tagar tersebut, peserta yang berpartisipasi secara tak langsung memberikan pengaruh kepada pengikut mereka masing-masing agar bisa melihat apa saja produk UMKM yang bagus untuk dikenakan untuk dipamerkan atau flexing.


Smesco juga bekerja sama dengan beberapa konten kreator dari media sosial di situs berbagi video, salah satunya adalah Edho Zell yang aktif mengunggah konten di Youtube dan media sosial lainnya.

 

Edho hadir dalam siniar yang ditayangkan akun Youtube resmi Smesco bersama Wientor Rah Mada untuk berbicara cara meningkatkan penjualan dan mengembangkan bisnis lewat media sosial. 


Lewat siniar tersebut, masyarakat pun bisa mengetahui kiat serta trik dari seorang konten kreator terkenal agar produk UMKM mereka bisa berkembang dengan cara yang lebih kekinian dan menarik. 


Pewarta: Nadia Putri Rahmani 

Editor: Agatha Olivia Victoria

Situs ini dikelola oleh anggota Kelompok 8 peserta Kursus Dasar Pewarta (SUSDAPE) XX Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA dengan tujuan untuk mengasah kemampuan jurnalistik peserta.

Comments