"Saya nggak merasa takut (bekerja di sini), justru semakin diingatkan untuk bersyukur dan berempati,"
Jakarta (BRAGANews) - Duduk sendiri di depan ruangan paling sepi dari antara ruang lain, seorang pria paruh baya terlihat sibuk mencatat administrasi dengan teliti.
Ruangan tersebut mengeluarkan bau kamper yang cukup menyengat dengan 10 tempat duduk berwarna biru terpisah di depannya.
Setelah didekati, di samping pintu ruangan terlihat jelas tulisan "Instalasi Kedokteran Forensik dan Pemulasaran Jenazah" berwarna putih dengan latar belakang biru, serta beberapa tata tertib untuk pengunjung.
"Mencari apa? Di sini kamar jenazah," tanya pria paruh baya itu sambil tersenyum.
Oktar (40), merupakan nama pria paruh baya tersebut. Berseragam kuning lengkap dengan topi hitam dan peluit, pria ini sudah menjadi satpam kamar jenazah Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan selama satu bulan.
Memang waktu yang sangat sebentar namun pekerjaan tersebut harus dilakoninya setelah lima tahun bekerja sebagai satpam di Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) untuk mencari nafkah karena kontrak sebagai satpam di KPPU telah habis.
Selama satu bulan pertama bekerja di RSUP Persahabatan, Oktar masih merasa betah dan belum menemukan kejadian aneh. Sebaliknya, dirinya justru semakin merasa bersyukur karena bisa membantu petugas hingga keluarga jenazah.
Salah satu pengalaman yang membuatnya semakin diingatkan untuk bersyukur yakni ketika melihat adanya bayi yang tak selamat ketika dilahirkan. Bayi perempuan tersebut pada awalnya masih hidup di dalam kandungan, tetapi memang sulit dikeluarkan dalam persalinan sehingga dirujuk dari salah satu rumah sakit di Bogor ke RSUP Persahabatan.
Namun di perjalanan, bayi perempuan itu meninggal dunia di dalam kandungan dan dikeluarkan dengan obat perangsang selama tiga hari di RSUP Persahabatan, hingga pada akhirnya dimandikan di kamar jenazah dan dikuburkan.
Meski merasa sedih, kejadian tersebut semakin mengingatkan Oktar untuk terus bersyukur karena kesehatan yang telah dirasakan bersama dengan keluarganya.
"Saya nggak merasa takut (bekerja di sini), justru semakin diingatkan untuk bersyukur dan berempati," kata Oktar menambahkan.
Adzan Maghrib pun berkumandang, saat Oktar sedang asik bercerita mengenai pengalamannya, keluarlah pria lain dari ruang jenazah berseragam hijau.
Pria tersebut rupanya bernama Ali (30), seorang petugas kebersihan di RSUP Persahabatan. Saat itu dirinya ingin pergi salat ke musala rumah sakit.
Usai kembali dari salat, Ali turut bercerita pengalaman yang sama dengan Oktar. Jauh dari rasa takut, ia mengaku sudah semakin terbiasa bekerja di kamar jenazah karena sudah lima tahun.
"Ya mau bagaimana, untuk mencari nafkah dan membantu sesama juga," ucap Ali.
Kendati tidak keberatan bekerja di kamar dengan stereotipe menakutkan tersebut, Ali bercerita bahwa momen mencengangkan sempat terjadi saat pandemi COVID-19.
Kala itu, jenazah yang dipindahkan ke kamar mayat cukup banyak dari hari biasanya. Jika normalnya rata-rata jenazah yang ada di kamar mayat sebanyak 2-3 orang dan paling banyak 5 jenazah, namun saat pandemi jenazah di kamar mayat mencapai 8-10 orang per harinya.
"Bahkan jenazah dalam keranda sampai ditumpuk-tumpuk itu karena saking banyaknya saat COVID-19," ujar Ali.
Adapun di dalam kamar jenazah RSUP Persahabatan terdapat lima keranda, satu box untuk jenazah bayi, serta dua tempat untuk memandikan jenazah.
Walaupun sempat terdapat rasa takut tertular virus, tetapi Ali tetap tangguh membantu para petugas untuk mengangkut jenazah dengan berbekalkan alat pelindung diri (APD).
Meski mencengangkan, pengalaman tersebut terus diingatnya hingga saat ini dan membuat dirinya kembali bersyukur karena masih terus sehat dan bahkan tidak terkena virus mematikan tersebut selama bertugas.
Pewarta: Agatha Olivia Victoria
Editor: Khaerul Izan

Comments
Post a Comment