“Saat ini masih dalam pembahasan apa bentuk kegiatannya, namun sepertinya akan banyak berupa pergerakan masyarakat,”
|
Jakarta (ANTARA) – Pemerintah melibatkan pihak swasta untuk mencapai target penurunan angka prevalensi stunting menjadi 14 persen pada 2024, salah satunya Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) melalui Kolaborasi Inklusif Pengusaha Indonesia Atasi (Kipas) Stunting. “Saat ini masih dalam pembahasan apa bentuk
kegiatannya, namun sepertinya akan banyak berupa pergerakan masyarakat,” kata
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan Siti Nadia
Tarmizi kepada Antara, di Jakarta, Jumat. Ia mengatakan bahwa pergerakan masyarakat
tersebut bertujuan untuk membangun kesadaran dan keterlibatan publik dalam penanganan stunting melalui
program Aksi Bergizi, Bumil Sehat, Aktifkan Posyandu, Jambore Kader, serta
Cegah Stunting Itu Penting. Menurut
Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 72 Tahun 2021, stunting atau tengkes
adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi
kronis dan infeksi berulang, yang ditandai dengan panjang atau tinggi badan
anak yang di bawah standar. Saat Pengukuhan Dewan Pimpinan Nasional
(DPN) Apindo periode 2023-2028 di Jakarta, Senin (31/7), Ketua Umum Apindo
Shinta W. Kamdani mengatakan pihaknya sudah membuat nota kesepahaman dengan
BKKBN dan Kementerian Kesehatan untuk bekerja sama menurunkan prevalensi stunting. Apindo akan mendorong 1.000 pengusaha untuk
berpartisipasi menjadi Bapak Asuh Anak Stunting (BAAS) guna membantu
pemerintah mengurangi angka prevalensi
stunting menjadi 14 persen pada 2024. Shinta mengatakan penanganan stunting memerlukan peran
aktif sektor swasta karena merupakan tanggung jawab moral untuk memajukan
bangsa. Apindo telah membentuk tim khusus untuk mengimplementasikan program
Kipas Stunting yang terdiri dari perwakilan perusahaan dan para pakar di
bidang nutrisi dan penanganan
stunting. Shinta menyatakan bahwa fase awal program Kipas Stunting, yang
merupakan salah satu pilar strategis kepengurusan Apindo periode 2023-2028,
akan diimplementasikan di tiga kota/kabupaten di tiga provinsi. Fase awal implementasi program yang akan diluncurkan pada akhir
Agustus 2023 tersebut akan mencakup 24 pos pelayanan terpadu (posyandu) di
provinsi Banten, Jawa Barat, dan Jawa Tengah dengan total 3.600 penerima
manfaat. Shinta menuturkan bahwa rencananya program tersebut akan menyediakan
makanan bergizi untuk balita berusia 6-24 bulan, ibu hamil, dan ibu menyusui
masing-masing selama 16 minggu. Apindo juga akan mendorong peningkatan kapasitas dan keterampilan
tenaga kesehatan, kader, dan warga untuk membuat makanan bernutrisi dari
protein hewani serta berbagai varian pangan lokal, ucapnya. Sementara itu, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana
(BKKBN) Hasto Wardoyo menyatakan kolaborasi penanganan stunting sebagai bentuk
pengamalan Pancasila. “Gerakan yang dilakukan Apindo itu menjadi best practice dalam
bergotong royong dan ‘Pancasila in action’,” kata Hasto. BKKBN telah menyerahkan data keluarga dengan anak berisiko tinggi
menderita stunting
yang nantinya akan dibagikan kepada para pengusaha yang berpartisipasi dalam
program Kipas Stunting tersebut, ujarnya. |
Pewarta: Uyu Septiyati Liman
Editor: Agatha Olivia Victoria

Comments
Post a Comment