Skip to main content

Dirpem LKBN ANTARA: Pewarta harus bekerja dari hati

Direktur Pemberitaan ANTARA Irfan Junaidi memberikan materi di kelas Kursus Dasar Pewarta (Susdape) XX LKBN ANTARA di Jakarta, Jumat (04/08/2023). (BRAGANews/Nadia Putri Rahmani)

"Pekerjaan ini adalah pekerjaan yang harus kita jalani dengan penuh rasa cinta, bukan dengan rasa pusing"

Jakarta (BRAGANEWS) – Direktur Pemberitaan ANTARA Irfan Junaidi di Jakarta, Jumat, mengatakan agar pewarta mengerjakan pekerjaannya dari hati atau dengan tulus.

“Kerjakanlah pekerjaan ini (pewarta) dari hati,” kata Irfan saat memberi materi di Kursus Dasar Pewarta (Susdape) XX LKBN ANTARA.

Irfan yang telah menjadi jurnalis selama 27 tahun, mengatakan pekerjaan tersebut juga harus dijalankan dengan penuh rasa cinta.

“Pekerjaan ini adalah pekerjaan yang harus kita jalani dengan penuh rasa cinta, bukan dengan rasa pusing,” ujar Irfan.

Alasan dia mengatakan hal tersebut adalah karena menjadi pewarta adalah pekerjaan yang tidak mengenal batas waktu atau jam kerja karena merupakan kerja kreatif.

Dia mencontohkan, apabila pewarta sudah mengikuti satu kasus, namun ada momen penting di kasus tersebut saat pewarta sedang libur, maka akan ketinggalan momentum.

Oleh karena itu, kata Irfan, dibutuhkan rasa cinta seorang pewarta agar mempunyai tekad untuk bekerja mengupas tuntas suatu isu.

Selain itu, Irfan mengatakan hal-hal yang ada di sekitar pewarta adalah bahan yang bisa dijadikan berita sepanjang pewarta tersebut punya keseriusan untuk mengamati serta kejelian dalam melihat sudut pandang tertentu.

Dia mencontohkan berita tentang kewajiban membeli sepatu OSIS yang isunya ramai pada tahun 1996. Dia mengungkapkan bahwa pewarta yang pertama kali menemukan berita tersebut adalah dirinya.

Awal mulanya, dia mendengar isu tersebut dari ibu-ibu saat sedang naik angkot. Irfan yang awalnya berniat meliput soal ahli fungsi lahan pertanian, mengubah topik beritanya demi menelusuri kabar tersebut.

Hasilnya, terungkaplah pihak-pihak yang ada di balik kebijakan tersebut hingga Presiden Soeharto yang saat itu menjabat, angkat bicara bahwa dirinya tidak setuju dengan adanya sepatu OSIS.

Dari kisah tersebut, Irfan mengatakan apabila menemukan “receh” di jalan, jangan ditendang, tetapi dikumpulkan.

Maksud dari “receh” yang diibaratkan Irfan adalah berita yang terkesan tidak penting karena bisa mengarah ke hal yang lebih besar.

“Bisa saja receh-receh yang dikumpulkan bisa membuka kotak pandora yang lebih besar,” kata dia.

Pewarta: Nadia Putri Rahmani

Editor: Khaerul Izan

Situs ini dikelola oleh anggota Kelompok 8 peserta Kursus Dasar Pewarta (SUSDAPE) XX Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA dengan tujuan untuk mengasah kemampuan jurnalistik peserta.

Comments