Skip to main content

KKP: Revitalisasi tambak udang tradisional tingkatkan produksi empat kali lipat

Salah satu tambak udang tradisional di Indonesia (BRAGANews/HO-Kementerian Kelautan dan Perikanan)


"Adanya revitalisasi produksi bisa ditingkatkan menjadi di atas 2-15 ton per hektare per tahun,"

 

Jakarta (BRAGANews) - Revitalisasi tambak udang tradisional diharapkan dapat meningkatkan produksi 2-15 tone per hektare per tahun atau empat kali lipat dari sebelumnya 0,6 hektare per tahun, kata Pejabat Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Tinggal Hermawan. 


"Adanya revitalisasi produksi bisa ditingkatkan menjadi di atas 2-15 ton per hektare per tahun," kata Direktur Kawasan dan Kesehatan Ikan, KKP Tinggal Hermawan saat dihubungi di Jakarta, Sabtu.


Menurutnya, tambak udang tradisional, saat ini produksinya hanya 0,6 ton per hektare per tahun, sehingga secara ekonomi tidak bisa menguntungkan bagi para petambak. 


Padahal, lanjut Tinggal, luasan lahan tambak udang tradisional mencapai 247 ribu hektare, akan tetapi hasilnya jauh berbeda dibandingkan tambak udang semi-intensif dan intensif di mana per hektare per tahun bisa memproduksi 10-30 ton.


Revitalisasi tambak udang tradisional yang dilakukan KKP dilakukan dengan menyiapkan percontohan pembuatan klaster tambak udang semi intensif agar bisa ditiru oleh para petambak tradisional.


Selain itu juga diberikan bantuan rehabilitasi saluran tambak masyarakat, bantuan alat berat untuk memperbaiki saluran tambak, bantuan kincir, dan lain sebagainya, sehingga diharapkan dapat meningkatkan produksi.


"Edukasi dan percontohan sangat diperlukan, karena ketika petambak sudah menerapkan pengetahuan serta meniru yang dijadikan percontohan, diharapkan produksi bisa meningkat," ujarnya.


Dia menambahkan, tak hanya revitalisasi tambak udang tradisional, KKP juga sedang menjalankan percontohan tambak udang berbasis kawasan di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. 


Kawasan tersebut menjadikan tambak udang yang ramah lingkungan, sesuai dengan program pemerintah terkait ekonomi biru, dimana salah satunya yaitu dengan perbaikan budidaya laut berkelanjutan. 


"Tambak udang berbasis kawasan di Kebumen itu model ramah lingkungan dan berkelanjutan, sesuai dengan ekonomi biru," katanya. 


Tambak udang berbasis kawasan itu kata Tinggal, dapat meningkatkan produksi hingga mencapai 40-80 ton per hektare per tahun, dan diharapkan bisa ditiru oleh para pengusaha karena nilai ekonominya sangat besar. 


Sementara itu, Ketua Harian Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Pusat Anton Leonard mengatakan bahwa program ekonomi biru memang perlu diterapkan secara sungguh-sungguh, agar negara maritim ini bisa menyejahterakan masyarakat, khususnya para nelayan. 


"Program pemerintah memang bagus, namun yang terpenting harus diterapkan agar kesejahteraan dan keberlangsungan alam ini bisa terjaga," kata Anton, yang juga merupakan Sekjen HNSI Pusat. 


Anton menekankan, meskipun program tambak udang berbasis kawasan seperti yang di Kabupaten Kebumen itu baru dikerjakan, namun diharapkan dapat menular ke berbagai wilayah pesisir yang berada di Indonesia. 


Pemerintah menargetkan pada tahun 2024 produksi udang bisa mencapai 2 juta ton, sehingga dilakukan revitalisasi tambak udang tradisional, serta membuat percontohan tambak udang berbasis kawasan. 


Produksi udang pada tahun 2022 tercatat 1,09 juta ton, meningkat 15 persen dibandingkan produksi tahun 2021 yang sebesar 953 ton.


Pewarta: Khaerul Izan

Editor: Agatha Olivia Victoria

Situs ini dikelola oleh anggota Kelompok 8 peserta Kursus Dasar Pewarta (SUSDAPE) XX Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA dengan tujuan untuk mengasah kemampuan jurnalistik peserta.

Comments