"LKBN ANTARA merupakan instrumen negara, pemerintah boleh berganti tetapi negara tetap berjalan terus, oleh karena itu, ANTARA harus tetap hadir,"
Jakarta (BRAGA News) - Mantan wartawan Harian Kompas dan pendiri Kompasiana, Pepih Nugraha dalam pemyampaian materinya di kelas Kursus Dasar Pewarta (Susdape) ke-XX di Jakarta, Kamis, mengatakan LKBN ANTARA memberikan ketentraman hati bagi pelangganya.
“Ketika masih menjadi wartawan Harian Kompas saya meresa tenang dan tentram mengunakan konten berita ANTARA," katanya.
Lebih lanjut, Pepih mengungkapkan bahwa ANTARA sangat dibutuhkan oleh para pelanggan karena ANTARA merupakan bagian terpenting dalam menyebarkan informasi yang bersumber dari negara.
“LKBN ANTARA merupakan instrumen negara, pemerintah boleh berganti tetapi negara tetap berjalan terus, oleh karena itu, ANTARA harus tetap hadir,” ucapnya
Ia juga menyampaikan enam kredo yang harus dimiliki oleh media termasuk ANTARA , yaitu kecepatan (speed), ketepatan (accuracy), kedalaman (depth), kejernihan (clarity), kelengkapan (completeness), dan keterpengaruhan (impact) .
Menurutnya sebagai Kantor Berita, ANTARA harus memiliki salah satu dari enam kredo yang ada.
Pepih yang telah berkarir selama 26 tahun sebagai wartawan menegaskan bahwa ANTARA harus lebih baik dari media lain, ANTARA harus mendapatkan top of mind bagi masyarakat, karena ANTARA sudah ada sejak tahun 1937.
Dirinya juga mengatakan bahwa ANTARA harus terus berbenah karena yang akan menjadi pesaing ANTARA ke depan adalah podcast, streamer, social media, content creator, youtuber, dan media lain.
Dalam hubungannya dengan membuat berita Ia menyapaikan formula yang didapatkan selama menulis berita, yang ia namakan “5-AL approach “ yaitu pendekatan aktual, praktikal, pendekatan intelektual, intektual, dan emosional.
Menutup pembicaraan ia mengingatkan bahwa sebagai wartasswan dalam memperlakukan narasumber harus “friendly, but not a friend”, yang artinya boleh bersikap dekat dengan narasumber tetapi tidak boleh menganggap teman.
Pewarta: Alex A. Wauran
Editor: Khaerul Izan

Comments
Post a Comment