Skip to main content

BKKBN: Konvergensikan program K/L untuk percepat penanganan "stunting"

 

Logo Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN). (BRAGANews/HO-BKKBN)


“Misalnya, Kementerian PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) memiliki program jamban bersih, nanti program tersebut dikonvergensikan dan difokuskan untuk diterapkan pada keluarga dengan anak berisiko tinggi menderita stunting,”


Jakarta (BRAGANews) - Ketua Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Hasto Wardoyo mengatakan berbagai program kementerian/lembaga (K/L) perlu dikonvergensikan untuk mempercepat penurunan prevalensi tengkes (stunting) di daerah yang tingkat prevalensinya masih tinggi.


“Misalnya, Kementerian PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) memiliki program jamban bersih, nanti program tersebut dikonvergensikan dan difokuskan untuk diterapkan pada keluarga dengan anak berisiko tinggi menderita stunting,” ucap Hasto di Jakarta, Jumat.


Ia menuturkan bahwa BKKBN tidak hanya melakukan konvergensi program penurunan stunting dengan instansi pemerintah, namun juga pihak swasta.


Untuk memastikan konvergensi ini berjalan baik, BKKBN akan memantau perkembangan fisik anak berisiko tengkes yang mendapatkan bantuan melalui program penurunan stunting.


“Sebulan sekali anak-anak itu akan ditimbang di posyandu dengan dipantau oleh tim pendamping keluarga BKKBN,” katanya.


Hasto menuturkan bahwa BKKBN juga mengintensifkan implementasi program Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) untuk mengurangi angka stunting nasional yang ditargetkan untuk turun menjadi 14 persen tahun depan.


Selain itu, Kementerian Kesehatan menyalurkan dana alokasi khusus (DAK) ke daerah yang masih tinggi prevalensi stuntingnya, namun memiliki kapabilitas finansial yang kurang memadai.


Dana tersebut akan langsung dikirim ke puskesmas untuk membeli produk lokal sebagai makanan tambahan bagi anak berisiko tinggi stunting.


Ia juga mengatakan bahwa dana desa di wilayah yang masih tinggi prevalensi stuntingnya didorong untuk meningkatkan alokasi dana tersebut untuk membeli makanan tambahan dan menerapkan program-program penanganan stunting.


Sementara itu, Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian, dan Pengembangan BKKBN Rizal Martua Damanik mengatakan stunting dapat disebabkan oleh berbagai faktor dan dipengaruhi oleh berbagai sektor.


Karena stunting berhubungan dengan asupan gizi, maka permasalahan stunting juga berhubungan dengan permasalahan pangan dan ekonomi. 


“Mulai dari ketersediaan produk pangan, sarana dan prasarana air bersih, sarana kesehatan, daya beli masyarakat, serta pengetahuan masyarakat mengenai pengolahan bahan pangan tersebut,” kata Rizal.


Rizal menyatakan bahwa pengetahuan tentang cara pengolahan makanan serta perilaku hidup sehat yang kurang merupakan hal yang juga dapat menyebabkan anak menderita stunting.


Hal ini karena kebiasaan-kebiasaan yang salah tersebut menyebabkan makanan kehilangan kandungan gizinya dan justru menimbulkan penyakit.


“Oleh karena itu, pendekatan yang kita butuhkan adalah pendekatan konvergensi, yaitu pendekatan dari berbagai sisi, serta pendekatan pentahelix yang terdiri dari lima sektor, yaitu masyarakat, pemerintah, perguruan tinggi, pihak swasta, dan media,” kata Rizal.


Melalui pendekatan tersebut, BKKBN optimis bahwa target penurunan prevalensi stunting nasional akan dapat tercapai di 2024 karena semakin banyak masyarakat yang peduli kepada permasalahan stunting dengan dukungan media massa yang telah menyebarkan informasi mengenai isu ini.

Pewarta: Uyu Septiyati Liman

Editor: Agatha Olivia Victoria


Situs ini dikelola oleh anggota Kelompok 8 peserta Kursus Dasar Pewarta (SUSDAPE) XX Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA dengan tujuan untuk mengasah kemampuan jurnalistik peserta.

Comments