Skip to main content

ANTARA: Keterampilan wawancara bisa diolah dengan pengetahuan tinggi

Produser Video Perusahaan Umum Lembaga Kantor Berita Nasional (Perum LKBN) ANTARA Rully Yuliardi Achmad saat mengisi materi dalam Kursus Dasar Pewarta (SUSDAPE) XX di Jakarta, Selasa (01/08/2023). BragaNEWS/Agatha Olivia Victoria

"Tapi sebenarnya jawaban normatif ini bisa melatih jurnalis untuk memancing narasumber,"


Jakarta (BRAGA News) - Produser Video Perusahaan Umum Lembaga Kantor Berita Nasional (Perum LKBN) ANTARA Rully Yuliardi Achmad menilai keterampilan wawancara bisa diolah ketika seorang pewarta memiliki pengetahuan tinggi terhadap bahan pertanyaan.


Maka dari itu, seorang pewarta harus mempelajari dengan baik bahan pertanyaan beserta isu yang akan diangkat sebelum mewawancarai narasumber.


"Kemampuan pewarta mencari angle akan berbanding lurus dengan pertanyaan," kata Rully saat mengisi materi dalam Kursus Dasar Pewarta (SUSDAPE) XX di Jakarta, Selasa.


Menurutnya, keterampilan wawancara yang efektif sangat penting untuk mengungkap beragam perspektif, menceritakan kisah humanis, laporan investigasi, meminta pertanggungjawaban otoritas terkait, serta membangun hubungan dengan narasumber. 


Kendati demikian, keterampilan wawancara memang membutuhkan kemampuan beradaptasi, empati, dan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip etika, serta memastikan akurasi dan menarik bagi target audiens.


Rully menambahkan, hal lain yang tak kalah penting dalam wawancara yakni mengidentifikasi narasumber. Dalam langkah ini, narasumber harus memiliki salah satu atau beberapa kriteria seperti reliable (dapat dipercaya), memiliki akses, memiliki akuntabilitas, quotability (mudah dikutip), memiliki jabatan, memiliki prestasi, terkait tindak pidana, mengetahui sesuatu atau seseorang (saksi). sesuatu telah menimpa mereka, serta kelompok terkena dampak.


"Jadi kalau bisa jangan ketemu dengan narasumber yang normatif. Tapi sebenarnya jawaban normatif ini bisa melatih jurnalis untuk memancing narasumber," tuturnya.

Namun saat perencanaan wawancara, ada kalanya narasumber menolak wawancara. Untuk itu, kata dia, bila narasumber tersebut vital tetapi enggan diwawancara tanpa menyebut alasan maka jurnalis bisa menuliskan hasil liputan tanpa wawancara. 


Kemudian, jurnalis juga bisa menuliskan hasil liputan dengan tambahan keterangan bahwa setelah berusaha dihubungi berulang kali, narasumber tetap tidak menjawab, serta meyakinkan narasumber untuk bersedia diwawancarai.


Adapun biasanya terdapat berbagai faktor narasumber menolak wawancara, yaitu waktu, ketidaktahuan, melindungi kerabat, rasa bersalah, trauma, cemas (tidak berpengalaman), serta janji pada media (trust).

Pewarta: Agatha Olivia Victoria

Editor: Khaerul Izan

Situs ini dikelola oleh anggota Kelompok 8 peserta Kursus Dasar Pewarta (SUSDAPE) XX Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA dengan tujuan untuk mengasah kemampuan jurnalistik peserta.

Comments